Sejarah Bungabondar

Bismillahir Rahmanir Rahim – In the name of Allah Graceful and Merciful

Segala puji bagi Allah yg Maha Suci dan Maha Besar yang telah menciptakan keindahan Bungabondar…

Huta/kota ini sejak ratusan tahun lalu ditempati oleh nenek moyangku sejak Raja Dongoran (Ompu Doro) memindahkan kota/huta kerajaan Siregar Salak dari Hasona/Pagaran Julu ke Bunga Bondar.

Pemandangan Dolok Mangomgom di ambil dari dekat makam Ompu Doro

Raja Dongoran (Ompu Doro) adalah pemimpin Siregar Salak  yang bermigrasi dari daerah Salak – Kab Dairi ke kaki Gunung Sibual-buali yang kemudian dinamai dengan kerajaan Baringin Tumburjati oleh Ompu Salakkan Raja – putra pertama Togar Natigor Siregar dari istri boru Sagala .

“Baringin” adalah nama teritory yang biasa digunakan oleh keluarga Siregar sebagai daerah kekuasaan “Ompu Palti Raja/Ampu Patih Raja”, merupakan sentral peribadatan orang Batak/Debata di zaman itu. Baringin (pohon beringin) merupakan pohon yang sangat rindang, kokoh, tinggi menjulang tinggi ke langit dan umurnya bisa sampai ratusan tahun sampai beberapa generasi dan dipercaya sebagai tempat persinggahan roh-roh nenek moyang sebelum naik-turun ke Banua Ginjang.

“Tumburjati”, dipercaya merupakan pohon kehidupan yang terasa rindang bagi semua penghuni Banua Ginjang atau kahyangan (Dunia Atas atau Dunia Debata/Tuhan)g, taman tersembunyi yang menyimpan hal-hal rahasia dan gaib, yang kelihatan selalu ramai seperti ranting dan daunnya. Di sanalah mereka mendapat pengetahuan atas berbagai hal, termasuk kodrat masing-masing. Kalau daun Tumburjati gugur, semua penghuni kahyangan langsung dapat mengartikannya. Daun-daunnya yang menangkup ke lapis langit pertama dan tertinggi seakan memohon agar tidak gugur sebelum waktunya. Namun ada kalanya dari daun termuda terpaksa jatuh bersama ranting yang patah. Di puncak ketinggian pohon kehidupan itu hinggap seekor unggas bernama Manuk/ayam Hulambujati. Tidak terbayangkan ketinggian pohon kehidupan itu. Sehingga ada kalanya nama pohon itu disebut Hariara Sundung di Langit, yang artinya beringin yang condong di langit. Manuk Hulambujati tentu selalu hinggap di puncaknya pada waktu-waktu tertentu; di suruh atau tidak. Namun unggas itu adalah induk tiga telur besar yang pernah mengandung Batara Guru serta dua dewa lain yang bernama Debata Sori dan Mangalabulan. Suatu ketika juga Manuk Hulambujati bersedia mengeramkan tiga telur lagi; kelak yang dikandungnya adalah pasangan ketiga sang dewa. Simbol Ayam/Manuk ini sering di letakkan di atas atap rumah orang-orang Batak yang masih percaya dengan sinkretisme tersebut.

Jadi, “Baringin Tumburjati” merupakan simbol yang menjembatani antara kehidupan dunia dan kehidupan Ketuhanan menunjukkan bahwa dahulu kala orang-orang marga Siregar Salak di daerah ini sangat suka dengan hal-hal religius dan ritualitas.

Kita turunan ompu Raja Dongoran Siregar bukan berarti kita Siregar Dongoran, itu hanya kebetulan beliau mengambil nama pendahulunya yaitu anak ketiga dari Togar Natigor Siregar.

Begini ceritanya, semua itu berawal dari perpindahan marga Siregar Salak ke Tapanuli Selatan mengikuti perpindahan keluarga Dinasty Sori Mangaradja dari daerah Salak – Dairi yg selalu kita anggap sebagai mora pembawa Sahala dalam keluarga Siregar Salak. Hijrah ke daerah selatan adalah pilihan bagus, karena secara politik kerajaan Batak yg dipimpin dinasty Tetea Bulan praktis sudah terpecah….komunitas Saribu Raja (yg biasanya jadi pemangku Jonggi Manaor dan Ompu Palti Raja) sebagai pendukung terdekat Dinasty Sorimangaradja pun kebanyakan sudah mulai bermigrasi ke daerah Selatan yang secara ekonomi lebih menjanjikan. Itu sekitar 600 – 700 tahun yang lalu.

Tepatnya di Lobu Hasona (di kaki gunung Sibual Buali), Ja Nabenggar alias Salakkan Raja alias Ompu Sahala Raja yang merupakan kakek dari Sahala Raja alias Ompu Palti Raja membangun peradaban baru yang kemudian disebut Kerajaan Baringin Tumburjati. Disebut Siregar Salak kalau menurut hikayat turun temurun yang kita terima adalah karena memang kita adalah Siregar yang berasal dari daerah Salak – Dairi sekitar Sianjur Mulana…. yg sejak kecil tinggal bersama disnasty Sagala (Sorimangaradja). Dikemudian hari banyak keluarga Siregar Salak yg melupakan ini karena sudah banyak dipengaruhi olah pemalsuan sejarah yg dibuat2 Belanda untuk mempermudah penundukan bangsa Batak. Catat bahwa, bangsa kita menjadi pecundang karena tidak mengerti dan tidak menghargai sejarah. Sejarah sangat penting sebagai audit trail untuk memperbaiki peradaban yg salah arah. I really note this think in my mind, once i birth…my grand father sound me Allahu Akbar and explained how DNA-Siregar Salak came to me. The culture: Family is high priority in our life.

Kemudian Kerajaan Baringin Tumburjati berkembang pesat, terutama setelah diakuinya Sahala Raja oleh seluruh keturunan Tetea Bulan menjadi pemangku gelar Ompu Palti Raja di seluruh Tanah Batak. Dikemudian hari untuk memperkuat posisi kekuatan Baringin Tumburjati, Sahala Raja menciptakan dua kepangeranan penyokong (buffer) yaitu Salagundi dengan pamannya Sayur Matua sebagai prince dan Sibadoar-Sipirdot dengan anak bungsunya Ompu Ni Hatunggal sebagai prince. Kalau dilihat dari penamaan seharusnya masih tetap berinduk ke kerajaan Baringin Tumburjati.

1. Baringin Tumburjati: meliputi seluruh luat Sipirok sampai Padangbolak harangan, Hasona, Baringin, Parandolok, Mandurana, Simagomago, Bungabondar, Arse, Liang,Gadu, Nagasaribu –>Ompu Palti Raja digantikan oleh Raja Ompu Ni Parlindungan anak tertua yang paling dekat dengan keluarga Sori Mangaraja karena istrinya boru Sagala. Raja Ompu Ni Parlindungan adalah salah seorang Prince yang berhasil membangun kembali kekuatan lembaga kerajaan Batak Sori Mangaraja, dan di zaman beliaulah marga Siregar berhasil memenangkan perang terhadap Bakkara dan membunuh pangeran Si Singamaraja-IV dalam perang tanding di Silindung dan Humbang. Dan di zaman beliau jugalah kelompok Siregar dan Sagala bermigrasi ke daerah Angkola dan Padanglawas.

2.Salagundi: Salagundi, Parau Sorat –> Sayur Matua

3. Sibadoar-Sipirdot: Sibadoar, Sipirdot, Dolok Hole –> Ompu Ni Hatunggal sebagai anak terkecil merupakan penasihat spritual – Sibaso dan kawin dengan marga Harahap.

Sudah menjadi budaya turun temurun, yg diangkat menjadi raja Sahala adalah yg memiliki garis turunan langsung dari dinasty Sorimangaraja….. sampai hari ini keluarga Sagala sangat dihargai oleh Siregar Salak terutama turunan Baringin Tumburjati di Bungabondar.

Ompu Ni Parlindungan, Ompu Darondong, Sutan Parlindungan, Raja Dongoran (Ompu Doro) dan Ja Onggang dianggap sebagai raja sahala bagi Siregar Salak karena ibu dan istri mereka adalah boru Sagala dari keluarga Sorimangaraja.

Sutan Parlindungan (cucu dari Raja Ompu Ni Parlindungan) yang tugunya berdiri di simpang Baringin Sipirok juga mempunyai pengaruh cukup kuat di daerah Angkola, sangat dekat dengan Marga Pulungan, Marga Harahap dan Marga Sagala.

Istri pertama beliau adalah dari keluarga Sagala pemangku Sori Mangaraja yang menurunkan satu orang anak yaitu Raja Dongoran Siregar (Ompu Doro).

Sepeninggal istri pertama beliau kawin dengan boru Harahap dari keluarga Raja2 Harahap di Angkola Julu (dari garis turunan Dja Gorga Harahap atau Tuanku Daulat) yang menrunkan beberapa anak seperti Ja Mangalempang (Huta Baringin) dan Ja Lintong (di Hasang dekat Bungabondar).

Di zaman Raja Dongoran (Ompu Doro) menjadi pemimpin Siregar Salak, terjadi suatu peristiwa yang sangat pelik karena adek-nya Ja Lintong pacaran dengan boru ni namboru (boru Hutasuhut), anak boru dari keluarga Ompu Ni Hatunggal dari Sipirdot-Sibadoar….itu suatu larangan dalam adat dan bertentangan dengan prinsip Dalian Na Tolu. Sudah diputuskan bahwa adeknya tersebut harus dihukum pancung di pinggiran Aek Siguti, semua orang sudah disumpah tidak akan memiliki turunan jika membocorkan dan membela terdakwa……itulah Ompu Doro begitu kuatnya DNA yg mengalir ditubuhnya bahwa family Siregar Salak harus dibangun dan dilindungi sesuai pesan Ompu Togar Natigor Siregar. Absolutely, Ompu Doro tidak setuju walaupun Ja Lintong adalah adek dari berlainan ibu……tidak sampai hati. Menolak keputusan dan membeberkan hal tersebut ke adeknya. Akhirnya selamat dan melindunginya dengan memberikan kehidupan di pinggiran aek siguti.

Ompu Raja Dongoran (ompu Doro) sendiri kawin dengan putri Sori Mangaraja dari keluarga Sagala yang pada saat itu sudah bermigrasi ke Angkola, tepatnya di Rimba Soping. Atas usulan Sutan Parlindungan sebagai penerus Kerajaan Baringin Tumburjati (Ompu Palti Raja) memindahkan keluarga Sori Mangaraja dari Rimba Soping ke Sampean – Sipirok tepat di tengah-tengah luat Sipirok sehingga lebih aman dari gangguan orang2 Toba yang dimotori oleh Singamaraja dari Bakkara.

Kemudian di zaman kepemimpinan Ompu Raja Dongoran (Ompu Doro) dipindahkan juga pusat pemerintahan Kerajaan Baringin Tumburjati ke Bunga Bondar berada di sebelah Timur Sampean….kalau secara geografi memang Bunga Bondar lebih strategis dan secure dibanding Lobu Hasona dan juga lebih dekat ke Sampean yang merupakan singgasana Sori Mangaraja (Datu Nahurnuk) dari marga Sagala Raja.

Orang paling kuat dan paling dekat dengannya adalah Ja Lintong, walaupun berlainan ibu namun selalu dilindunginya. Dikemudian hari adeknya Ja Lintong meninggal, Raja Dongoran (Ompu Doro) mengurus keponakanya dan dibawa ke Bunga Bondar. Dikemudian hari Ompu Doro meninggal dan dimakamkan di Bunga Bondar… Keputusan Ompu Doro sangat tepat, banyak turunan keponakannya yg dikemudian hari menjadi orang terpandang….dan di tahun 60-an mereka memindahkan kuburan Ja Lintong dari tepian aek Siguti ke dekat makam Ompu Doro di Bunga Bondar.

Ja Onggang yg merupakan anak dari Ompu Doro….merupakan leader dari Siregar Salak di daerah Baringin Tumburjati yg merupakan pemimpin Siregar Salak dalam pasukan Paderi yg berhasil membalaskan dendam Marga Siregar terhadap kejahatan yg pernah dilakukan oleh Dinasty SingaMangaraja.

Terima kasih terhadap agama Islam yang dibawa kedalam keluarga ini dan darah warrior yang mengalir sampai ke anak-cucu

Yang perlu kita kenang adalah perhatiannya dan visi-nya untuk meneruskan surviving keluarga Siregar Salak di daerah luat Sipirok. DNA (genetik) itu kemudian turun-temurun bagaikan aliran air surga firdaus yg mengalir ke seluruh kehidupan anak cucunya di seluruh dunia.

Begitulah Maha Besar Allah, hanya dengan DNA…manusia bisa hidup menjalani evolusinya dan mencari jalan kehidupan yg lebih baik menuju kehidupan yg lebih sempurna. Itulah DNA yg mengalir dalam darah kita yg secara turun-temurun diwasiatkan…..

1. Si Raja Batak
2. Guru Tatea Bulan
3. Saribu Raja
4. Raja Lontung
5. Toga Siregar
==> Tidak tercatat sudah lebih dari puluhan turunan selama lebih dari 1000 tahun

6. Togar Natigor Siregar: ==>1.Siregar Salak (dari br Sagala yg ditinggalkannya di daerah Salak -  Sianjur Mulana, Dairi) sewaktu terjadi percekcokan antara Dinasti SoriMangaraja dengan Dinasti Singamangaraja+Simanullang) ( 2. Sormin 3. Dongoran 4. Silali 5. Siagian), dari istri kedua setelah pelarian ke Sabatangkayu

7. Ompu Ni Sahala Raja (Ja Nabenggar alias Salakkan Raja) –> bermigrasi ke Tapsel bersama marga Sagala (Dinasti SoriMangaraja), pendiri Kerajaan Baringin Tumbur Jati
8. Ompu Junjungan –>1. Datu Baragas,2. Datu Nahurnuk,3. Datu Mangapung,4. Datu Parultop
9. Datu Nahurnuk
10. Ompu Palti Raja (Sahala Raja), pencipta Gajah Lumpat–>1. Sayur Matua (salagundi-Parausorat, tapi menurut catatan silsilah bahwa Sayur Matua adalah paman dari Sahala Raja), 2. Ompu Parlindungan (pewaris BaringinTumburjati sebagai sentral kerajaan Siregar Salak di luat Sipirok-Angkola sampai Gadu, Liang, Nagasaribu), 3. Ompu ni Hatunggal(Sipirdot-Sibadoar)
11. Ompu ni Parlindungan–>Raja Siregar Salak dan pewaris Baringin Tumbur Jati, istri br Sagala dr keluarga Sorimangaraja Dinasty==>1. Ompu Darondong, 2. Jamarmerong
12. Ompu Darondong
13. Sutan Parlindungan
–1. Ompu Doro (dr istri pertama br Sagala) –> kuburannya dekat SMP bungabondar
–>2. Ja Mangalempang (parandolok, mandurana, simagomago)
–>3. Ja Lintong, pernah dijatuhi hukuman mati namun dibela oleh Ompu Doro sebagai Raja Siregar Salak. Kemudian hari pomparna ikut Ompu DOro di bungabondar, dan thn 70-an kuburannya dipindah dari pinggiran aek siguti ke bungabondar
11. Raja Dongoran (Ompu Doro) –> Raja Siregar Salak – BaringinTumburjati, istri Br Sagala dr Dinasti SoriMangaraja. Setelah kasus Ja Lintong terjadi perpecahan di kubu Siregar Salak, kemudian memindahkan pusat kerajaan dari Lobu Hasona ke Bunga Bondar.
==>1. Ja Onggang, 2. Ja Manguhup
12. Ja Onggang: Raja Siregar Salak – Baringintumburjati yg memimpin perang balas dendam Siregar Salak (bersama pasukan Paderi) thd SingaMangaraja (Tuan Sorba Di Banua) dan keluarga Manullang yg menghancurkan kerajaan Batak Dinasty SoriMangaraja ratusan tahun sebelumnya. Yg menurut Ompung2 kita turun temurun bahwa Togar Natigor Siregar sebagai Ompu Palti Raja saat itu bersumpah akan mengembalikan kejayaan kerajaan Batak di bawah Sori Mangaraja dan membalas dendam pengkhianatan marga Sinambela (SiSingamangaraja).

Beliau beserta segenap pangeran Siregar Salak se-zamannya dan Sori Mangaraja Syarif Sagala yang membawa Islam ke Angkola-Sipirok. Dan kemudian semua turunannya Islam sejak 1800-an yang paling keras menentang Belanda sampai Indonesia Merdeka. Meninggal karena Cholera di Parlilitan setelah memenangkan perang Paderi.

Sepeninggal dari Ja Onggang, kemudian keluarga Siregar Salak dipimpin oleh Ja Sualo yang kemudian ikut memelihara anak-anak dari Ja Onggang. Sekitar 30 tahun kemudian Belanda pun sudah mulai memasuki daerah Angkola yaitu sekitar tahun 1840-an, perjuangan dilanjutkan oleh anak-anak dari Alm. Ja Onggang yang sudah Islam yakni Ja Urangan sebagai yang tertua dan Ja Ulubalang yang sangat keras perlawanannya terhadap kedatangan zending dan Belanda. Dan perlawanan tersebut bersama-sama dengan keluarga anak-anak dari pamannya Ja Lintong (sebut saja keluarga Sutan Doli) dan keluarga Pulungan yang merupakan pendukung kuat dinasty Siregar Salak dan Sori Mangaraja di Sampean. Ja Ulubalang juga masih melanjutkan tradisi kawin dengan keluarga Sagala (SoriMangaraja) dari Sampean.

Makam Sutan/Ja Ulubalang Siregar – di Bungabondar. Tadinya makam-makam di sini dipenuhi dengan batu-batu ukiran kuno yang hilang dimbil orang2 tidak bertanggung jawab

Di zaman inilah tanah-tanah milik keluarga Siregar Salak di Bungabondar diambil begitu saja sama Belanda dan diberikan kepada para pendukung Belanda. Sehingga banyak keluarga yang akhirnya menyingkir ke Gadu, Liang, Nagasaribu, Hasang dan Saba Tombak serta terus melakukan perlawanan dan tidak mau membayar pajak. Sebut saja seperti Ja Gadu yang membangun pertahanan di daerah Gadu, Baginda Dolok Sordang (anak dari Ja Ulubalang) dari Gadu/Liang dan Torbit Fajar dari Saba Tombak yang masih sering melakukan perlawanan-perlawanan yang dibantu keluarga dekat dari Marga Pulungan dari Sialiya.

Sifat pemerintahan Belanda yang sangat kolonialis dan imperialis menekan terus keluarga Siregar Salak dari kelompok Islam dan memata-matai setiap acara adat dan pengajian yan secara rutin dilakukan keluarga untuk tetap menjaga kekeluargaan. Setiap ada pengajian dan dzikir (orang Bungabondar menyebutnya dengan “mardikkir”) orang Belanda selalu menyisipkan mata-mata. Itu sudah jadi darah daging kesombongan orang Eropa, seperti apa yang dilakukan Joen P. Z Coon yang membantai orang-orang Banda yang Islam hanya untuk menguasai cengkeh.

Pendukung Belanda dibolehkan sekolah dan diberikan jabatan untuk memungut pajak dari masyarakat, sedangkan orang-orang Islam dipersulit yang memang sudah kebijakan Belanda saat itu untuk mengurangi perlawanan rakyat. Inilah yang kemudian membuat keluarga menjadi tertinggal, tertekan dan kehilangan tanah adatnya… tapi Tuhan tetap berpihak kepada keadilan, dimana Belanda terusir oleh Jepang dan kemudian Indonesia merdeka. Kemudian silsilah keluarga dimodifikasi ulang sekitar tahun 1870 – 1930-an oleh segelintir orang sehingga bayak yang kabur dan dirasa tidak sesuai dengan yang disampaikan turun-temurun.

Ada satu pertanyaan kenapa di Bungabondar tidak ada sisa-sisa kerajaan Siregar Salak:
1. Setelah kita masuk Islam disekitar akhir 1700-an, praktis telah menjadi masyarakat modern dengan sentralnya mesjid. Kalau kita lihat mesjid berada di depan kota/huta Bungabondar. Jadi budaya pelebegu yang ritualnya dilakukan di atas batu linggam sudah ditinggalkan, bandingkan dengan Lobu Hasona dan Sampean …. di sana masih ada bekas batu linggam dan pohon beringin yang sudah berumur ratusan tahun.
2. Gempa besar yang terjadi pada tahun 1892 (menurut catatan Geofisika dan Meteorologi tanggal 17 Mei 1892), semua bagas godang di Bungabondar menjadi rata tanah. Kalau kita teliti memang rumah-rumah tua di Bungabondar menggunakan tiang2 kayu bania yang umurnya mungkin sudah 300 tahun lebih.
3. Menurut wasiat turun-temurun keluarga bahwa dibelakang Bungabondar ada sebuah goa besar yg menjadi pusat pertahanan Siregar Salak, namun mulut goa tersebut tertimbun batu-batu setelah terjadi gempa besar. Dimana goa itu juga yang digunakan Imam Bonjol untuk bersembunyi dan kemudian bisa meloloskan diri ke daerah Padangbolak. Kemungkinan disana banyak tertimbun peninggalan Siregar Salak zaman dulu, karena konon kabarnya mereka mampu membeli ratusan Gajah dan kuda, sebelum datangnya Belanda mereka adalah pedagang sapi dan kuda.

Inilah bukit yang menjadi pusat pertahanan orang-orang Siregar Salak 200 tahun lalu

Note:

penulis sadar bahwa tulisan tidaklah sempurna adanya karena ini hanya merupakan cerita yang disampaikan secara turun-temurun dari keluarga. Ada pun silsilah adalah berdasarkan script2 yg ditulis di daun lontar dan bambu yang sejak kecil penulis salin di buku harian penulis.

25 responses to “Sejarah Bungabondar

  1. Batak culture has millions of cultural treasures. Arts, culture and tourism are found in soil hobo made unique escorted elsewhere. Friendly community that welcomes foreign visitors. We loved Batak culture.

  2. Contentnya bagus dan sangat bermanfaat agar kita tahu silsilah turunan keluarga siregar salak, namun juga merasa sangat terharu jika membaca besarnya pengorbanan ompung2 kita siregar salak ketika berjuang melawan missionaris sekaligus imperialis belanda, alhamdulillah pengorbanan ompung2 kita berhasil dan menang mempertahankan agama islam dan akhirnya agama ini dapat diwariskan kepada kita anak2 cucunya khususnya siregar dari bunga bondar dsk… we love siregar salak bungabondar

    • Terima kasih ito, bikin tulisan juga ya di blog ini.

      Setidaknya kita bisa convey jiwa2 warrior dari pendahulu kita dan juga sebagai audit trail kepada kita untuk tau kesalahan masa lalu serta bagaimana memperbaiki ketertinggalan keluarga.

      • Mantab…aku pernah baca buku tentang sejarah batak yang berjudul Tuanku Rao, pengarangnya mangaraja onggang parlindungan.

  3. 1. Si Raja Batak
    2. Guru Tatea Bulan
    3. Saribu Raja
    4. Raja Lontung
    5. Toga Siregar
    ==> Tidak tercatat sudah lebih dari puluhan turunan selama lebih dari 1000 tahun

    6. Togar Natigor Siregar: ==>1.Siregar Salak (dari br Sagala yg ditinggalkannya di daerah Salak – Sianjur Mulana, Dairi) sewaktu terjadi percekcokan antara Dinasti SoriMangaraja dengan Dinasti Singamangaraja+Simanullang) ( 2. Sormin 3. Dongoran 4. Silali 5. Siagian), dari istri kedua setelah pelarian ke Sabatangkayu

    7. Ompu Ni Sahala Raja (Ja Nabenggar alias Salakkan Raja) –> bermigrasi ke Tapsel bersama marga Sagala (Dinasti SoriMangaraja), pendiri Kerajaan Baringin Tumbur Jati
    8. Ompu Junjungan –>1. Datu Baragas,2. Datu Nahurnuk,3. Datu Mangapung,4. Datu Parultop
    9. Datu Nahurnuk
    10. Ompu Palti Raja (Sahala Raja), pencipta Gajah Lumpat–>1. Sayur Matua (salagundi-Parausorat, tapi menurut catatan silsilah bahwa Sayur Matua adalah paman dari Sahala Raja), 2. Ompu Parlindungan (pewaris BaringinTumburjati sebagai sentral kerajaan Siregar Salak di luat Sipirok-Angkola sampai Gadu, Liang, Nagasaribu), 3. Ompu ni Hatunggal(Sipirdot-Sibadoar)
    11. Ompu ni Parlindungan–>Raja Siregar Salak dan pewaris Baringin Tumbur Jati, istri br Sagala dr keluarga Sorimangaraja Dinasty==>1. Ompu Darondong, 2. Jamarmerong
    12. Ompu Darondong
    13. Sutan Parlindungan
    kenapa harus tidak tercatat sedangkan,amang tua /amang uda,abang,pra bisa memarkan sejarah seharusnya bisa juga dong tarombo nya dilengkapi :
    yang aku tahu dari leluhurku bahwa toga siregar memilki 4 anak laki2 dan salah satu dari ke 4 itu SIREGAR DONGORAN/Raja DONGORAN sedangkan op Doro generasi Ke 6 dari TOGA siregar sedangkan op doro adalah cucu dari DATU NARHUNUK DAN OP Parlindungan adalah anak dari Datu Narhunuk dan yang disebut op palti Raja adalah sebutan untuk DATU NARHUNUK……Kalau dilihat partuturan sejarah SIREGAR SALAH sebetulnya SIREGAR SALAK INI BERNAMA OP DORO ANAK dari DATU NARHUNUK jadi yang dimaksud kan SIREGAR SALAK yang mana SEDANGKAN yang disebut SIREGAR SALAK adalah OP DORO anak dari OP PARLINDUNGAN dan OP PARLINDUNGAN sendiri ANAK DARI DATU NARHUNUK dan DATU NARHUNUK sendiri anak dari OP DJUNGDJUNGAN yang dimaksud siregar salak dimana???sebutan SIREGAR SALAK adalah OP DORO dan OP DORO sendiri KETURUNAN Dr TOGA SIREGAR???MOHON maaf Kalau buat sejarah harus lihat dulu MARTAROMBO ????

    • Itulah silsilah yang tertulis di rangkaian bambu (bona bulu) yang aku dapatkan dari kakek kami, dan itu valid menurut runutan sejarah yang aku telusuri.

      Memang agak berbeda dengan silsilah yang sengaja di buat oleh Belanda di tahun 1932, dengan tujuan memudahkan pengaturan adat. Menurut saya silsilah itu nggak masuk akal, bagaimana bisa Raja Batak ke 105 berakhir di tahun 1860-an di Sipirok sementara Siregar cuma 20 turunan….atau apakah memang hitungnya dari Sori Mangaraja ke 90 yang berkuasa di tahun 1500-an atau …..dikarang-karang.

      Acuannya, bahwa Ompu Raja Batak yang disebut dengan Sori Mangaraja (Sri Maharaja) sudah ada sejak 1000SM – 1510 M di Sianjur Sagala Limbong Mulana, kemudian lembaga ini terdiri dari 4 raja yaitu Sori Mangaraja dari marga Sagala, Ompu Palti Raja dari Lontung, Jonggi Manaor dari Borbor dan Balige Raja dari Sinambela/Bakkara. Dan Datu Nahurnuk juga biasanya dirangkap oleh Sori Mangaraja atau dari keluarga Sagala.

      Kemudian di tahun 600M, kelompok Siregar Silo sudah memisahkan diri dengan mendirikan kerajaan Nagur di Simalungun … jadi Siregar Silo sendiri tidak mungkin cuma 20 turunan sampai sekarang ini.

      Pada abad ke-13 daerah Debata/Batak dijajah oleh India Selatan (Rajendra Cola) yang berujung pada melemahnya lembaga kerajaan Batak. Pada tahun 1510 Sori Mangaraja – XC (ke-90) dari Marga Sagala Raja digulingkan oleh pemberontakan Marga Manullang.

      1550, kemudian dipadamkan oleh Porkas Siregar, Togar Natigor Siregar sebagai pejabat Ompu Palti Raja saat itu dan Singamangaraja I/Balige Raja. Namun kemudian terpecah juga, karena kelompok Tetea Bulan tetap bersikukuh mengembalikan lembaga Sori Mangaraja dan Datu Nahurnuk ke marga Sagala tetapi SM Raja I tidak lagi patuh. Namun berujung pada pertikaian antara Sagala/Siregar dengan Bakkara dan terbunuhnya Porkas Siregar, dan menyebabkan Sori Mangaraja bermigrasi ke daerah Sipirok yang diikuti oleh Marga Siregar Salak. Terutama dengan munculnya zaman kegelapan terjadinya perdagangan budak, dimana orang2 Toba saling berperang untuk mendapatkan “Hatoban” untuk kemudian dijual jadi buruh kebun dan buruh kapal ( Hatoban – hak toba an). Banyak sekali budak2 dari Toba diperjualbelikan dan dipekerjakan Inggris di kepulauan Seychelles dan orang2 Nihe yang berasal dari Humbang, Toba dan Silindung. Kita tahu bahwa Dinasty Singamangaraj menguasai daerah Toba selama 12 generasi atau 350 tahun, waktu yang cukup lama dalam keterlambatan peradaban.

      Togar Natigor Siregar sebagai pemangku Ampu Patih Raja/ompu palti raja saat itu yang juga sebagai menantu Sori Mangaraja-90 bersumpah untuk membalas dan mengembalikan lembaga kerjaaan Batak sebagai lembaga tertinggi. Dikemudian hari beliau migrasi ke daerah Sabatang Hayu, Padang Lawas dan kemudian kawin dengan boru Gultom yang menurunkan Sormin, Dongoran, Ritonga/Silali dan Siagian. Sementara anaknya dari istri pertama br Sagala tinggal bersama dengan keluarga Sori Mangarajadi Sianjur Mulana daerak Salak, namanya Ja Nabenggar/Salakkan Raja.

      Sementara Dinasty Raja Batak, waktu itu Raja Soambaton Sagala (Sori Mangaraja XCI) bermigrasi ke daerah Angkola dengan membawa seluruh pasukan dan keluarga dekat lewat Barus, Sibolga, Batangtoru kemudian ke Rimba Soping Angkola yang didukung oleh kelompok Borbor yang sudah lebih dulu bermigrasi seperti Marga Pulungan, Harahap dan Lubis. Sudah prinsip manusia, lebih baik mencari tempat yang lebih baik daripada hidup di tanah yang penuh kegelapan.

      Kemudian Raja Salakkan Siregar pergi menemui Togar Natigor Siregar ke Sabtang Hayu, dan menemui bapaknya sudah kawin lagi dan mempunyai anak lagi yaitu Sormin, Dongoran, Silali dan Siagian.

      Raja Salakkan mendirikan kerajaan “Baringin Tumburjati” di Hasona tepat di kaki Gunung Sibual-buali, yang kemudian menurunkan semua marga Siregar Salak yang berada di daerah Sipirok. Dan kalau kita perhatikan memang linguistik orang2 Sipirok lebih dekat ke Dairi dari pada ke Toba.

      Ompu Raja Dongoran Siregar (Ompu Doro) di dalam silsilah ini tidak ada kaitannya dengan kisah Dongoran yang menurut orang Belanda adalah anak ke-2 dari Toga Siregar. Beliau hidup sekitar pertengahan tahun 1700-an dan beliaulah yang memindahkan pusat Kerajaan Baringin Tumburjati ke Bungabondar dan sekaligus raja pagan terakhir di keluarga Siregar Salak.

      1800-an, Raja Onggang Siregar anak dari Ompu Doro adalah menantu dari Raja Sori Mangaraja-100, yang bersama2 dengan Sori Mangaraja-101 (Syarif Sagala) convert ke Islam meninggalkan peradaban kuno Batak. Bagaimana bisa Sori Mangaraja sudah 101 turunan sementara kita baru sekitar belasan … ada missing link yang sengaja dihilangkan untuk memecah kekuatan Batak di waktu itu.

      Bahkan kalau dilihat dari tulisan kita juga seharusnya bangsa Batak sudah ada sejak 3000 tahun yang lalu bukan 500 tahun yang lalu, mirip dengan peradaban kuno Phoenicia dan Ibrani Aramaic.

      Untuk kesamaan nama, tidak perlu bingung karena kebiasaan orang Batak memberikan nama anaknya dengan nama kakek2 mereka sebagai penghargaan terhadap family.

      Sementara Datu Nahurnuk, Ompu Palti Raja dan Sori Mangaraja adalah gelar/jabatan … namun di zaman Ompu Sahala Raja pemangku Ompu Palti Raja di Sipirok memberikan keempat anaknya dengan nama Datu. Karena zaman itu daerah Sipirok sangat religius dan mistis …. dimana persembahan manusia untuk menyampaikan pesan ke dunia atas masih dilakukan.

      Ini hanyalah sejarah silsilah keluarga Siregar Salak, tidak terlepas dari kesalahan pada saat ompung-ompung kita menuliskannya dalam rangkaian nama keluarga dalam gulungan bambu.

    • Parjolo au marsantabi sappulu tu anak ni Raja ima Gabe Rikardo Siregar Dongoran sian si Gumpar. Ahu AwaL Siregar Dongoran Anak ni Raja katurunan ni Ompu Raja Parlindungan Siregar Dongoran sian napa-napa ni Sibual-buali Baringin Sipirok.Sampe sadarion barita na dipasahat ni amanta Tuongku Parlindungan Siregar (1921-2005) tu ahu songonon ma:
      Anak ni Dongoran 4:
      1.Datu Baragas
      2.Sahala Raja
      3.Datu Mangapung
      4.Datu Parultop
      Anak ni Sahala Raja ima,Datu Nahurmuk jana anak ni Datu Nahurmuk ima Ompu Hayuara/Ompu Raja Palti, satorusna muse, anak ni Ompu Hayuara/Ompu Raja Palti istri pertama ima:
      1. Ja Manangir
      2. Ompu ni Panaluan
      3. Ompu ni Godung
      4. Ompu Tombal
      5.Subang Pahu
      Anak ni Ompu Hayuara/Ompu Raja Palti istri kedua ima:

      1.Ompu Sayur Matua Ranteomas (di Parau Sorat Sipirok)
      2.Ompu Parlindungan (Lobu Hasona Sipirok, madung di okkal (dipindahakan ke poken salasa,simpang Baringin, Sipirok)
      3.Ompu Hatunggal(di Tambatan Gaja, Tor Halihi, Sibadoar, Sipirok)

      Manurut silsilah na adong di ahu Ompu Doro adalah anak tertua dari Ompu Paralaklindungan, Nungi muse sahat tu nasadarion inda adong dipatorang amanta tu au mengenai Siregar Salak, jana di silsilah ku inda adong tertulis Siregar Salak
      Muda adong nasala di panuturan nami on parjolo hami mangido maaf
      Horas
      Awal Siregar Pdk Gede Jkt.

      aBaringibaringin

    • Parjolo au marsantabi sappulu tu anak ni Raja ima Gabe Rikardo Siregar Dongoran sian si Gumpar. Ahu AwaL Siregar Dongoran Anak ni Raja katurunan ni Ompu Raja Parlindungan Siregar Dongoran sian napa-napa ni Sibual-buali Baringin Sipirok.Sampe sadarion barita na dipasahat ni amanta Tuongku Parlindungan Siregar (1921-2005) tu ahu songonon ma:
      Anak ni Dongoran 4:
      1.Datu Baragas
      2.Sahala Raja
      3.Datu Mangapung
      4.Datu Parultop
      Anak ni Sahala Raja ima,Datu Nahurmuk jana anak ni Datu Nahurmuk ima Ompu Hayuara/Ompu Raja Palti, satorusna muse, anak ni Ompu Hayuara/Ompu Raja Palti istri pertama ima:
      1. Ja Manangir
      2. Ompu ni Panaluan
      3. Ompu ni Godung
      4. Ompu Tombal
      5.Subang Pahu
      Anak ni Ompu Hayuara/Ompu Raja Palti istri kedua ima:

      1.Ompu Sayur Matua Ranteomas (di Parau Sorat Sipirok)
      2.Ompu Parlindungan (Lobu Hasona Sipirok, madung di okkal (dipindahakan ke poken salasa,simpang Baringin, Sipirok)
      3.Ompu Hatunggal(di Tambatan Gaja, Tor Halihi, Sibadoar, Sipirok)

      Manurut silsilah na adong di ahu Ompu Doro adalah anak tertua dari Ompu Parlindungan, Nungi muse sahat tu nasadarion inda adong dipatorang amanta tu au mengenai Siregar Salak, jana di silsilah ku inda adong tertulis Siregar Salak
      Muda adong nasala di panuturan nami on parjolo hami mangido maaf
      Horas
      Awal Siregar Pdk Gede Jkt.

  4. Sebenarnya silsilah marga Batak selalu diturunkan secara lisan (tak terdokumentasi) hingga 1800an bahkan menurut J.C. Vergouwen

    Mengenai Padri

    Tuanku Mandailing, Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Junjungan, tahun pada 1820 meninggalkan gelar Tuanku karena sikap pihak Padri/ Bonjol

    Jatengger Siregar sendiri hanya memakai gelar itu tiga har

    Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang dengan tegas menolak tunduk lagi lalu mendirikan dinasti baru

    Melibatkan padri sama saja dengan memasukkan kuda troya di tanah batak

    Saya sebagai Nainggolan, sesama keturunan Tatea Bulan-Raja Lontung-Saribu Raja

    tetapi lebih memilih Dinasti Raja Uti Hatorusan, pendiri Swarnadwīpa (“Island of Gold”), yang bahkan nenek moyang saya Sariburaja (yang mewarisi benda-benda pusaka dari Guru Tatea Bulan) pun tak bisa menandingi kesaktian Raja Uti, abangnya.

    “…order to go there onehad first to
    approach the king of Utsthaladvίpa. Batak legend knows as Raja Uti who had a
    boar’s head and lived on an island off the coast of Barus. All rulers, the
    Singamangaraja as well as Tuanku Barus and the king of Pagerruyung, had to offer
    him presents.” W. J. Van Der Meulen

    • Mauliate atas masukan positivenya. Memang agak sulit melacak karena di zaman penjajahan banyak silsilah yang dituliskan di daun lontar dan bambu banyak yang hilang dan terbakar karena perang yg tidak ada habis2nya samapi akhirnya kakek2 mulai sekolah di pertengahan 1800-an dan menulisnya kembali.

      Saya hanya mencoba menuliskan kembali sejarah keluarga, sebagai bahan audit trail bagi anak cucu kita untuk tidak lagi terjebak dalam percekcokan antar suku batak di masa depan. Percekcokan selama 500 tahun yg kemudian membuka mata kita bahwa bangsa Batak sudah tertinggal jauh dari bangsa2 di dunia, kita sadar setelah ditundukkan oleh Belanda dan terbentuknya Indonesia yang akhirnya menghilangkan Tanah Debata (Land of God) dari sejarah Dunia untuk selamanya.

      Padahal 3500-700 tahun lalu begitu terkenalnya dengan kamper (kapur Barus), kemenyan dan emas … seluruh Nusantara menyebut kamper dengan Kapur Barus. Value added yang hilang begitu saja….. berbeda dengan bangsa Ternate yang mampu bersatu melawan penjajah dan sampai hari ini masih mampu menghasilkan bibit cengkeh terbaik di dunia sejak ribuan tahun.

      • Ya saya juga memimpikan kembalinya kejayaan itu, bangsa besar yang terkenal sejak jaman 3000sm, bangsa yang menghimpun keturunannya dalam hukum emas sejak Periode Legenda, yang bahkan bangsa-bangsa yang berperang dengannya malah hidup dalam nilai-nilai Batak, yang wilayah keturunannya sampai ke lampung, Ompu Silamponge (buku Sejarah Daerah Lampung,1977) bandingkan dengan wilayah melayu lain yang matrilineal

        Marco Polo pernah menyebut, harga kapur barus seperti emas dengan berat yang sama! tetapi sayangnya pohon Pohon Kapur (Dryobalanops aromatica) sudah masuk tahap Critically Endangered, sedangkan sama seperti cengkeh di era modern, kapur barus semakin kehilangan nilai karena tanah yang berkurang dan banyaknya komoditas-pengganti

        Saat ini yang tersisa adalah nilai-nilai Batak yang sedang berjuang melawan liberalisme dan radikalisme, keduanya adalah sampah yang terus menggerogoti, dan kedua-duanya tidak peduli bila budaya Batak hilang

        Mengenai silsilah, belanda mungkin terlalu menyederhanakannya sehingga menciptakan kontroversi, tetapi kaum padri lah membakar bukti-bukti budaya dan sejarah, pustaha dan naskah-naskah dan berbagai produk warisan nenek moyang menurut Willer seorang civiel gezaghebber (pegawai pamongpraja), hilanglah ciri khas Tapsel, kita susah membedakan budayanya dengan budaya pesisir, zending juga sama gilanya dengan membakar berbagai pustaha dan produk datu. dekat sekali dengan “adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” zending dan padri punya pola pikir yang sama

        Karena itu saya lebih suka dengan falsafah Alas demi menghormati adat Batak, “hidup dikandung adat, mati dikandung hukum Islam” tidak heran budaya Alas dan Gayo lebih lestari dan menarik hati seorang tokoh etnologi sekelas Profesor Akifura Iwabuchi

        Pihak netral, Belandalah yang berjasa mengumpulkan warisan budaya kita walau dalam hal ini demi mempelajari sifat bangsa jajahannya, untunglah belanda datang sebelum zending, walau agak terlambat karena tanah Batak terlebih dahulu dipenetrasi padri sehingga tokoh independen seperti Raffles dan Junghuhn mendorong pelestarian budaya asli.. jika tidak habislah budaya kita

        Saya sendiri setuju bahwa tidak mungkin silsilah Batak sependek yang dibentuk Belanda, setahu saya sebelum memperoleh istilah “marga”, dahulu misalnya kelompok keturunan Siregar adalah salah satu dari kota “polis” sama seperti di yunani kuno dimana semua polis ini tunduk pada pewaris Raja Batak, masing-masing keturunan diam dalam polis tersendiri, akhirnya semua merujuk pada Raja Batak dengan dua anaknya Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon/Raja Mataniari

        Kemungkinan inilah awal periode yang disebut dalam ilmu sejarah Aditya Candra, 6000 tahun yang lalu, penghormatan pada Guru Bulan dan Raja Matahari, para leluhur asal Austronesia

        Apa yang harus dilakukan saat ini adalah mengobarkan lagi semangat yang digelorakan Sanusi Pane dan Amir S. Harahap dalam Jong Bataks Bond

        Horas
        Horas

  5. banyak versi tentang sejarah batak secara umum atau marga siregar itu sendiri… yg mana yang paling benar?? apakah Togar Natigor itu bapak kandung dari Silo, Dongoran, Silali, dan Sianggian? apakah Siregar dari Sipirok semuanya Siregar Salak??

    • @disando: sejarah mencatat bahwa transformasi budaya yg dilakukan Islam di Batak bertujuan memperbaiki praktek budaya perbudakan yg dilakukan raja2 batak yg sangat menikmati perdagangan manusia….. menjadi peradaban yg sangat humanis dan sosial serta monotheism.
      Sementara Belanda bertujuan untuk menguras kekayaan daerah Batak secara serakah dengan bantuan pra kapitalis seperti Henneman corp dari Jerman.

      @palti: berdasarkan silsilah dan sejarah siregar sipirok, semua siregar di sipirok adalah anak cucu salakkan raja yg merupakan anak pertama togar natigor siregar dari br sagala putri sori mangaraja di sianjur mula2, salak, dairi.

  6. lagi blogwalking, terdampar disini. mengumpulkan satu demi satu cerita tentang keluarga dan keturunan dari orang tua. Bulan lalu saya baru saja mendatangi bunga bondar….
    salam kenal
    Ira

  7. msh membingungkan saya silsilah ini ,sprt yg ditulis bahwa tigor natigor siregar menurunkan siregar salak , dongoran , silo , silali dan siagian, sementara generasi diatasnya tigor natigor ini disebut siregar apa? dan sprt kita ketahui bahwa siregar yg ada skrg ini ya siregar yg tersebut itu , krn dari tigor natigor siregar keatas sampe ke puncak toga siregar pasti bermarga siregar juga , dan pasti ada keturunannya sampe skrg. jadi tidak msk akal rasanya klau tigor natigor siregar menurunkan semua sub marga siregar yg ada skrg ini. dan rasanya lbh msk akal klau tigor natigor ini adalah siregar silo , dongoran silali ataupun siagian , dan siregar salak adalah sub marga dari dongoran. dan saya sendiri adalah siregar dongoran salak ( begitu kata opung saya).

  8. Semangat pembahasan Klan Marga SIREGAR disini membuat saya terpancing untuk ikut berkolaborasi, Saya adalah Keturnan SIREGAR SILALI dari RAJA PAMOTO PAMOSTANG LAUT yang berdomisili di Kisaran, kami menguraikan Keturunan SIREGAR itu demikian…
    RAJA BATAK / SIBORU BASOPAET :
    1. GURU TATEA BULAN
    2. RAJA ISUMBAON

    GURU TATEA BULAN / SIBORU BASO BURNING :
    1. RAJA UTI (RAJA GUMELENG GELENG) – LK
    2. SIBORU BIDING LAUT – PR
    3. TUAN SARIBU RAJA – LK
    4. SIBORU PAREME – PR
    5. LIMBONG MULANA – LK
    6. SIANTING HAUMASAN – PR
    7. SAGALA RAJA – LK
    8. SIPUNGGA HAUMASAN – PR
    9. SILAU RAJA – LK
    10. NAN TINJO – WADAM

    TUAN SARIBU / SIBORU PAREME (Adik kembarannya dinikahi) dan SIBORU MARGIRING LAUT :
    1. RAJA LOTTUNG (Anak dari SIBORU PAREME)
    2. RAJA BORBOR (Anak dari SIBORU MARGIRING LAUT)

    RAJA LOTTUNG / SIBORU PAREME (Menikahi Ibundanya sendiri) :
    1. SINAGA – LK
    2. SITUMORANG – LK
    3. PANDIANGAN – LK
    4. NAINGGOLAN – LK
    5. SIMATUPANG – LK
    6. ARITONANG – LK
    7. SIBORU NASOMBAON – PR
    8. SIREGAR – LK

    SIREGAR / PITTA OMAS BR. LIMBONG dan OMAS PALAKKI BR. LIMBONG (Kakak Beradik Kandung) :
    1. SILO (Anak dari PITTA OMAS BR. LIMBONG)
    2. DONGORAN (Anak dari PITTA OMAS BR. LIMBONG)
    3. SILALI (Anak dari OMAS PALAKKI BR. LIMBONG)
    4. SIAGIAN (Anak dari OMAS PALKKI BR. LIMBONG)

  9. SIREGAR SALAK Sebenarnya adalah turunan SIREGAR DONGORAN Klaim sebagai anak terbungsu SIREGAR, akibatnya salah kaprah….
    TOGAR NATIGOR SIREGAR :
    1. SILO
    2. 2. DONGORAN
    3. SILALI
    4. SIAGIAN
    5. OPPU SAHALA

    OPPU SAHALA :
    OPPU JUNJUNGAN

    OPPU JUNJUNGAN :
    OPPU PALTI RAJA

    OPPU PALTI RAJA :
    1. DATU PARULTOP
    2. DATU MANGAPUNG
    3. DATU NAHURNUK
    4. DATU BARAGAS

    DATU NAHURNUK :
    1. SIGURDA
    2. OPPU NI HATUNGGAL
    3. OPPU PARLINDUNGAN
    4. SAYUR MATUA

    OPPU PARLINDUNGAN :
    1. JA MARMERONG
    2. OPPU DORONDONG

    OPPU DORONDONG :
    1. JA MANGALEMPANG
    2. JA LINTONG
    3. OPPU DORO

    OPPU DORO :
    1. JA SUALO
    2. JA ONGGANG

    Keturunan JA ONGGANG lah yang disebut SIREGAR SAHALAK (SIREGAR SALAK), nama-nama leluhur SIREGAR SALAK sama persis dengan nama-nama leluhur SIREGAR DONGORAN,

  10. Daftar Silsilah SIREGAR DONGORAN

    I. TOGA SIREGAR
    1. Silo
    2. Dongoran
    3. Silali
    4. Siagian

    II. DONGORAN

    III. BAGINDA RAJA/SAHALA RAJA

    IV. OMPU JUNJUNGAN
    1. Datu Baragas
    2. Datu Nahurnuk
    3. Datu Mangapung
    4. Datu Parultop

    V. DATU BARAGAS
    1. Sunggu Raja
    2. Datu Nahurnuk Ingotingot
    3. Datu Bandang
    4. Datu Mangiang
    5. Sahala Raja
    6. Sahala Datu/Barita Raja

    VI. SUNGGU RAJA
    1. Ompu Matio
    2. Ompu Sidemdem

    VI. DATU NAHURNUK INGOTINGOT
    1. ? (ke Pangaribuan)

    VI. DATU BANDANG
    1. ? (ke Pangaribuan)

    VI. DATU MANGIANG
    1. Ompu Raja Sotaradu (ke Sihulambu)
    2. Ompu Raja Hutana
    3. ? (ke Silantom)

    VI. SAHALA RAJA
    1. ? (ke Pangorian)
    2. ? (ke Mandailing Julu/Pasaman)

    VI. SAHALA DATU/BARITA RAJA
    1. Takkulapa Panaraba/Sutan Muda>Sigurda (Siregar Sigurda)

    V. DATU NAHURNUK
    1. Ompu Palti Raja

    VI. OMPU PALTI RAJA
    1. Sayur Matua
    2. Ompu Parlindungan
    3. Ompu Ni Hatunggal

    VII. SAYUR MATUA
    1. Ja Parluhutan
    2. Datu Sangiang
    3. Bauk Guluan

    VII. OMPU PARLINDUNGAN
    1. Ompu Doro
    2. Ja Marmerong
    3. Ja Mangalempang
    4. Ja Lintong

    VII. OMPU NI HATUNGGAL
    1. Sutan Mula Sontang
    2. Badia Raja
    3. Ja Hatunduhan

    V. DATU MANGAPUNG
    1. Ompu Junjungan II
    2. Sapala Raja

    V. DATU PARULTOP
    1. Lambat Raja>Ompu Palti Raja II>Guru Junjungan>Ja Monangin>Sibontar Mata (Siregar Pahu)

  11. tolong sertakan referensi yang mampu merangkul semua siregar. ini lumayan, tapi cacatnya luar biasa. anyhow, I’m Siregar!

  12. kami kehilangan silsilah keturunan opung kami dja kaet siegar dongoran,,apakah ada yang dihapus dari torombo?

  13. Mohon izin komen sedikit. Saya rasa sejarah tarombo seperti inilah yg betul berdasarkan versi dan keinginan Belanda. Blog ini mengikut kepada buku Tuanku Rao karangan Mangaraja Onggang Parlindungan atau MOP. Silsilah tarombo seperti ini tidak boleh diikuti dan diyakini hanya akan memecah belah persatuan Komunitas Siregar.

  14. membingung khan……
    di baca artikel ini laen
    di baca artikel itu laen lagi..?
    kLo aq siregar dogoran….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s